Minggu, 14 November 2010

Wahabi-Salafy: Aliran Garis Keras dan Puritanisme

penganut Wahabi ditandai dengan melekatnya perasaan paling suci. Mereka menganggap kelompok mereka sebagai penganut tauhid murni. Dengan melekatnya perasaan paling suci, kaum Wahabi cenderung eksklusif dan antipluralisme. Mereka menganggap surga hanya miliknya. Sikap itu berdampak pada keengganan beradaptasi terhadap tradisi daerah setempat. Mereka hanya mengakui tradisi dari Arab Saudi, tempat asalnya.
ni menunjukkan bahwa radikalisme dan terorisme merupakan buah dari corak teologi. Sebagaimana diketahui bahwa teologi yang berkembang dalam sejarah Islam sebenarnya cukup banyak. Di antaranya yaitu Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Maturidiyah, Asy’ariyah, dll. Masing-masing teologi mengembangkan corak penafsiran akidah yang khas. Namun secara garis besar semua aliran teologi itu dapat dipetakan dalam kelompok liberal, progresif, moderat yang cenderung inklusif, dan puritan, fundamentalis yang cenderung eksklusif.
Garis Keras
Dalam awal sejarah Islam, penganut teologi Khawarij disebut oleh para sejarawan sebagai kelompok yang merepresentasikan “garis keras”. Mereka cenderung tidak toleran terhadap kelompok lain di luar teologinya. Bahkan mereka melancarkan aksi pembunuhan terhadap kelompok dan tokoh yang dinilai sudah keluar dari ajaran Islam (kafir). Sayidina Ali ra. merupakan salah satu korban pembunuhan dari kelompok ini.
Pada dasarnya puritanisme dan fundamentalisme yang dianut Khawarij adalah ekspresi keimanan yang paling dalam. Jadi merupakan sesuatu yang tulus dari hati mereka. Namun ekspresi keimanan itu malah menimbulkan kerusakan terhadap lingkungannya. Hal ini disebabkan oleh corak teologi yang tidak memberi ruang adanya perbedaan interpretasi. Selain itu juga terlalu rigid dalam melihat persoalan.
Aliran Wahabi mewarnai Indonesia sejak dibawa oleh para jamaah haji awal abad 19. Generasi berikut dilakukan oleh para pelajar Indonesia di Timur Tengah.
GERAKAN Wahabi masuk ke Indonesia, menurut beberapa sejarawan, dimulai pada masa munculnya Gerakan Padri Sumatera Barat pada awal abad XIX. Beberapa tokoh Minangkabau yang tengah melaksanakan ibadah haji melihat kaum Wahabi menaklukkan Mekah dan Madinah yang pertama pada tahun 1803-1804.
“Mereka sangat terkesan dengan ajaran tauhid dan syariat Wahabiyah dan bertekat menerapkannya apabila mereka kembali ke Sumatera. Tiga di antara mereka adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Bersama-sama dengan Tuanku Nan Renceh, mereka memimpin Gerakan Padri,” ungkap oleh Habib Soleh Al Hadar, Rois Aam Barisan Pemuda Salafun assalihin Ahlussunnah Wal Jama’ah (Barda Salama) kepada Indonesia Monitor, Minggu (23 / 8/2009).
Dalam perkembangan berikutnya, Ahmad Dahlan (1868-1923) menunaikan ibadah haji saat Arab Saudi sedang terjadi pergolakan kekuasaan, di mana Abdul Azis bin Abdurrahman tengah mendirikan negara Arab Saudi. Pada saat yang sama, gerakan Salafiyah Wahabi dicanangkan oleh Muhammadi Abduh dan Rasyid Ridla.
“Tampaknya, Ahmad Dahlan memiliki hubungan pribadi dengan Rasyid Ridha antara tahun 1903-1905. Karenanya, Ahmad Dahlan mendapatkan dukungan kuat dari Rasyid Ridha untuk menyebarkan paham Wahabi di Indonesia, “ujar Habib Soleh.
Namun, lanjut dia, fanatisme yang dipertontonkan kaum Wahabiyah di jazirah Arab, tidak bisa dipraktikkan Ahmad Dahlan di Indonesia melalui gerakan Muhammadiyah yang didirikannya pada tahun 1912. Sebab, perlawanan keras muncul dari para ulama dan mayoritas umat Islam Indonesia yang sangat kuat memegang teguh ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Pada tahun 1905, penyebaran ajaran Wahabi diperkuat oleh datangnya Ahmad Surkati (18701943), ulama Wahabi keturunan Arab-Sudan. Melihat perlawanan yang cukup keras dari mayoritas penganut Ahlussunnah Wal Jamaah, terlebih setelah berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 yang diprakarsai Hasyim Asy’ari, penyebaran ajaran Wahabiyah lebih condong dilakukan melalui jalur pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah semi modern.
Sementara kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah masih mengandalkan sistem pendidikan tradisional pesantren. Sekretaris Moderate Muslim Society (MMS) Hasibullah Satrawi melihat, ada arus besar dari gerakan penyebaran Wahabi yang ekstrem di Indonesia yaitu melalui sebagian generasi Indonesia yang belajar di Arab Saudi. Sebagian dari mereka itulah yang kemudian membawa ideologi radikal itu. Sebaliknya, sebagian orang Indonesia juga dikirim untuk memperdalam gagasan ekstrem itu ke sana.
“Faktor aliran dana dari Arab Saudi dan sebagian negara Arab lainnya yang mentransfer dana untuk perjuangan gerakan Wahabi ekstrem itu turut menyuburkan penyebaran aliran ini,” ujar Hasibullah Satrawi kepada Indonesia Monitor, Kamis (20 / 8/2009).
Paham Wahabi cepat berkembang di Indonesia, menurut dia, karena mereka punya dana tak terbatas. “Anda bayangkan, siapa yang tidak mau kalau ada donator dari Arab Saudi yang mau manyumbang pembangunan masjid di Indonesia, atau untuk kegiatan-kegiatan lainnya. Pasti semua mau, apalagi diembel-embeli dakwah. Kita tidak anti-Arab, tapi masyarakat kita terlalu mengagung-agungkan Arab. Apapun yang datangnya dari Arab dianggap mulia dan benar. Itulah kesalahan kita sendiri yang tidak selektif,” paparnya.
Semua pelajar yang belajar di Timur Tengah, kata dia, punya potensi untuk membawa ideologi Wahabi ke Indonesia. Pada umumnya, ada pengaruh kultural bagi mereka yang tidak selektif memilih gagasan, kemudian itu dikembangkan di Indonesia.
Namun, menurut KH Taman Qaulani, Ketua Pondok Pesantren Alhikmah Al Islamiyah, paham Wahabi sebenarnya tidak bisa berkembang. “Sekarang Wahabi tidak berkembang karena lain mazhab. Di Indonesia yang berkembang mazhab Syafiiyah, sementara dia kan mazhab Hambali,” ujar Taman Qaulani kepada Indonesia Monitor, Sabtu (22/8/2009).
tree_ahlulbayt.jpg
Aisyah, isteri Rasulullah berkisah, “Suatu hari Husain masuk ke dalam rumah ketika Rasulullah Saw sedang tidur. Ketika Husain duduk di atas ranjang Rasul, maka Nabi pun terbangun dari tidurnya, lalu Nabi berkata kepadaku, ““Wahai Aisyah! sesungguhnya Husain ini akan dibunuh di Padang Karbala! Karena itu barangsiapa yang menziarahinya (berdoa untuknya) atau melangkahkan kakinya berziarah kepadanya maka baginya pahala Hajji dan Umrah!”
Aku (Aisyah ) bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, pahala satu kali haji dan satu kali umrah?” Rasulullah saww menjawab, “Pahalanya dua kali Hajji dan dua kali Umrah” Setiap kali aku terkejut, Rasulullah saww menambah bilangan kelipatan pahalanya hingga beliau mengatakan : ‘Sembilan puluh Hajji dan sembilan puluh Umrah!”
Mungkin Anda akan terkejut mendengar hadits ini, tetapi jika Anda mengenal siapa Husain bin Ali, putra Fathimah, cucu kesayangan Nabi ini, maka lenyaplah segala keheranan dan ketakjuban Anda. Atau mungkin juga Anda akan mengira bahwa orang Syi’ah lebih mengutamakan Ziarah kepada Husain ketimbang Hajji ataupun Umrah?!
Perhatikan dan bacalah kembali hadits di atas tersebut! Bahwa Hadits atau pun ucapan Rasul Saw tak sedikit pun bermaksud mengabaikan ataupun mengecilkan ibadah Hajji maupun Umrah, tapi bagi Rasul Saw kecintaan kepada Husain yang merupakan salah seorang Ahlul Baitnya adalah hal yag teramat penting dan fundamental!
Lihatlah apa yang terjadi saat ini?
Setelah berabad-abad sejak peristiwa pembantaian Imam Husain, cucu Nabi Saww umat Islam pun mengalami hal yang sama. Apa yang terjadi dengan umat Islam? Kemana Pemimpin-pemimpin Islam Sejati? Kemana para pembela Islam?
Jika Anda semua mengenal Husain, tentulah dengan mudah Anda dapat menjawabnya.
Seorang penulis Kristen, George Jordac menulis di dalam bukunya “Voice of Justice”, katanya : “Jika Anda ingin menggerakkan air yang ada di dalam kolam kecil maka Anda dapat melakukannya cukup dengan menggerakkan tangan Anda, sehingga gelombang air akan bergerak saling bertabrakkan. Tetapi itu tidak dapat terjadi jika Anda lakukan di sebuah kolam renang. Kecuali jika Anda melemparkan sebuah batu besar ke dalam kolam renang tersebut! Akan tetapi hal itu berbeda jika air itu berupa danau yang besar, Anda tidak dapat membuat air menjadi bergelombang kecuali Anda melemparkan sebuah gunung ke dalamnya! Hal yang sama tidak dapat Anda lakukan pada sebuah lautan, kecuali jika Anda melemparkan sebuah planet ke dalam lautan tersebut!
Tapi saya (George Jordac) mengetahui sebuah laut yang tidak dapat digerakkan sama sekali kecuali oleh satu hal! Yaitu jeritan orang yang dizalimi!
Lautan itu adalah Ali bin Abi Thalib! Seorang yang berbagai hasrat keinginan dan bermacam syahwat tidak mampu menggerakkannya! Akan tetapi jeritan seorang wanita Yahudi yang berada dibawah perlindungan Pemerintahan Islam telah menggerakkan dan mengguncangkannya” (George Jordac, Voice of Justice)
Orang yang telah mengenal Nabi Muhammad Saw, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain serta Ahlul Baitnya yang lain tidak akan heran dengan keutamaan-keutamaan mereka.
Bacalah sejarah Ali! Bacalah sejarah Fathimah! Bacalah sejarah Hasan! Bacalah sejarah Husain! Anda akan memahami mengapa Allah SwT berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad, kepada mereka): “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku (ini) kecuali kecintaan kepada keluarga (ku)!” (al-Quran Surah 42 : 23)
Sementara Nabi Nuh as berkata: “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 109)
Juga Nabi Hud as berkata : “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 127)
Juga Nabi Saleh as berkata : “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 145)
Juga Nabi Luth as berkata : “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 164)
Juga Nabi Syu’aib as berkata : “Dan aku sekali-kali tidak minta upah atas seruan-seruanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam!” (QS 26 : 180)
Lalu mengapa Nabi Muhammad Saw diperintahkan Allah SwT untuk meminta upah atas seruannya? Sementara Nabi-nabi lainnya tidak !? Mengapa?
Siapakah keluarga yang diperintahkan Allah untuk dicintai oleh seluruh manusia!
Rasulullah saww pun pernah bersabda, “Didiklah anak-anak kalian akan tiga hal : Mencintai Nabi kalian, Mencintai Ahlul Baitnya dan Membaca Al-Qur’an!” (Hadits Riwayat ad-Dailamy)
Rasulullah saww bersabda, “Seorang hamba Allah tidaklah beriman sebelum ia mencintai diriku lebih daripada dirinya sendiri dan lebih mencintai keturunanku daripada keturunannya, dan lebih mencintai keluargaku daripada keluarganya dan lebih mencintai zatku daripada zatnya sendiri!” (H.R. Baihaqi & Dailamy)
Mencintai Ahlul Bait Nabi bukan sunnah tetapi kewajiban bagi setiap muslim! Mencintai Ahlul Bait Nabi adalah bagian dari pokok keimanan.
Al-Qalyubi berkisah, “Seorang lelaki tertidur di dalam masjid. Ia meletakkan dua kantong uangnya di sebelahnya. Ketika terbangun dilihatnya kedua kantong uangnya telah lenyap. Lalu ia memandang kee sekeliling ruang masjid, tidak ada seorangpun kecuali seorang lelaki yang sedang shalat. Dia mendekati lelaki yang sedang shalat itu dan menunggu sampai lelaki itu selesai melakukan shalatnya. Lelaki yang telah usai dari shalatnya bertanya : “Ada apa?”
“Begini, tadi saya tertidur dan disebelahku ada dua kantong uang milikku. Setelaah kubangun ternyata kedua kantongku sudah hilang. Aku perhatikan tidak ada orang lain di ruangan ini selain aku dan tuan?!”, kata lelaki yang kehilangan uang tersebut.
Lalu lelaki yang usai shalat itu bertanya “,Berapa uangmu yang hilang itu?” “Seribu Dinar!”, jawabnya.
Kemudian orang itu pulang dan kembali membawa uang sebanyak 1000 dinar. Diserahkannya uang tersebut kepada lelaki yang kehilangan uang itu. Setelah menerima uang tersebut lelaki itu kembali menemui ke tempat di mana biasa kawan-kawannya berkumpul. Kawan-kawannya berkata, ”Sebenarnya uangmu itu ada pada kami! Kami hanya bercanda saja. Ini uangmu itu!”
Lelaki itu terkejut bukan kepalang dan menceritakan peristiwa yang dialaminya tentang lelaki yang memberikan uang kepadanya. Kawan-kawannya berkata ,”Dia adalah Imam Ja’far ash-Shadiq (salah seorang Ahlul Bait Nabi)!”
Lelaki itu merasa malu, apalagi setelah mengetahui bahwa lelaki yang secara tidak langsung dituduh mengambil uangnya adalah Imam Ja’far ash-Shadiq. Maka ia segera bergegas ke rumah Imam Ja’far untuk mengembalikan uang tersebut. Imam menolaknya dan berkata ,”Sesungguhnya bila kami (Ahlul Bait) telah memberikan suatu pemberian maka kami tidak akan menariknya kembali” (Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi, An-Nawadir)
Siapakah Imam Ja’far? Beliau adalah salah seorang Ahlul Bait Rasulullah Saw.
Riwayat-riwayat menakjubkan seperti ini tidak akan Anda temui pada siapa pun kecuali pribadi-pribadi besar seperti para Imam Ahlul Bait. Mereka adalah bintang penerang, penunjuk jalan dan suri tauladan bagi orang-orang yang beriman!
Agama Cinta
Dasar ajaran Islam adalah Cinta. Imam Muhammad al-Baqir as berkata, ““Agama adalah cinta dan cinta adalah agama” (Nur ats-Tsaqalain 5 : 285)
Para Imam Ahlul Bait sendiri menjadikan Cinta sebagai sebuah keyakinan agama.
Allah SwT berfirman, “Katakanlah (Hai Muhammad kepada manusia): ‘Jika kamu (benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah mencintaimu pula serta mengampuni dosa-dosamu” (al-Quran Surah 3 : 31)
Jika Anda benar-benar mencintai Allah maka ikutilah sunnah Rasulullah, ikutilah ajaran-ajaran beliau dan jangan Anda menyimpang dari sunnah Rasul-Nya!
Di dalam kitabnya Al-Kabir, Thabrany dan ar-Rafi’iy dan Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa senang hidup seperti hidupku dan mati seperti matiku, dan ingin mendapatkan Surga Eden yang dibangun Tuhanku, maka sepeninggalku hendaklah ia berwali (menjadikan pemimpin) kepada Ali dan hendaknya ia mengikuti pimpinan yang yang diangkat Ali dan meneladani para Ahlul Baitku. Mereka itu (Ahlul Baitku) adalah keturunanku. Mereka diciptakan dari darah dagingku dan dikarunia pemahaman dan ilmuku. Celakalah umatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubungan denganku melalui mereka. Allah tidak akan menurunkan syafa’at kepada orang-orang seperti itu!”
Rasul saww bersabda, “Tidaklah yang mencintai kami Ahlul Bait melainkan orang beriman dan tidaklah yang membenci kami kecuali orang munafiq pendurhaka!” (Al-Mala dalam Sirah-nya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar